Permasalahan belajar buat anak merupakan permasalahan penting. Apalagi jika kita sebagai orang tua – katanya – tidak punya lagi waktu untuk mengajari anak. Sejak usia SD, bisa jadi seorang anak sudah memiliki masalah dalam belajar, sehingga dikondisikan dalam bentuk sebuah les. Nah apa yang bagus buat mereka? Yang privat atau yang reguler?
Perbandingan les privat dengan les reguler memang cukup berbeda secara segnifikan. Dilihat dari hasinya, les privat tentu sangat lebih unggul hasilnya dibanding dengan les reguler. Kenapa bisa demikian, tentunya les privat akan lebih unggul karena, pengajaran pada seswa dilakukan secara langsung tatap muka dengan gurunya, jika ada pertanyaan akan langsung di jawab sampai siswa tersebut mengerti. berbeda dengan les reguler, disini siswa diajarkan secara bersamaan dengan siswa lain, bisa jadi jika ada pertanyan pada salah seorang siswa, dia cenderung malu untuk mengutarakanya. Akhirnya siswa itu menjadi belum mengerti akan pertanyaan yang ada pada dirinya.
Dari pertimbangan itulah, saat ini para orang tua lebih minat untuk memberikan les privat dibanding dengan les reguler. Memang les privat tentunya akan lebih mahal dibanding dengan les reguler. karena, biaya yang dikeluarkan langsung diberikan pada gurunya tersebut. untuk itu, para orang tua tidak harus memberikan les privat dengan membayar seseorang untuk mengajari putra-putrinya, bisa jadi, tidak perlu dilakukan demikian, les privat bisa dilakukan langsung dengan mengajari putra putrinya sendiri jika orang tua masih sanggup. pada intinya, orang tua selalu memperhatikan secara lebih soal pelajaran di sekolahnya putra-putrinya.
Diakhir tulisan ini, bisa diambil kesimpulan. Lebih baik memberikan pengajaran dengan sistem les privat pada seorang anak. Jika kita memang kurang adanya waktu, tentu kita bisa memakai jasa orang lain untuk memberikan les secara privat pada putra putri kita. tapi akan lebih baik jika kita meluangkan waktu untuk memberikan les privat sendiri pada si anak dengan tidak lepas memberikan perhatian secara penuh akan kegiatan sehari-hari si anak. Ok, sampai ketemu lagi….sampai jumpa…..













Saya punya seorang keponakan yang dalam kacamata orang tua dan neneknya – nakal betul. Ya memang label nakal pada umumnya dengan mudah ditempelkan pada anak yang suka mukul, suka banting, suka melempar dan sebagainya. Padahal usianya belum juga genap 3 tahun. Tidak ada satupun mainan yang awet ketika dipegangnya. Pasti jadi korban dilempar atau dibanting. Tidak juga ada satu mainan pun yang bisa membuat anak ini tenggelam dalam keasyikan. Main sebentar lalu ditinggal pergi melakukan tindakan menyeramkan lainnya : naik-naik kursi, nguliti tembok, menyiram seluruh ruangan dengan air dan masih banyak lagi.