RSS
 

Mainan Anak Yang Mendidik

29 Des

Saya punya seorang keponakan yang dalam kacamata orang tua dan neneknya – nakal betul. Ya memang label nakal pada umumnya dengan mudah ditempelkan pada anak yang suka mukul, suka banting, suka melempar dan sebagainya. Padahal usianya belum juga genap 3 tahun. Tidak ada satupun mainan yang awet ketika dipegangnya. Pasti jadi korban dilempar atau dibanting. Tidak juga ada satu mainan pun yang bisa membuat anak ini tenggelam dalam keasyikan. Main sebentar lalu ditinggal pergi melakukan tindakan menyeramkan lainnya : naik-naik kursi, nguliti tembok, menyiram seluruh ruangan dengan air dan masih banyak lagi.

Tapi kemarin istri saya memberikan mainan anak berupa puzzle yang bergambar 7 Kurcaci dengan putri salju. Walau tokoh dongeng ini terkesan jadul, tapi dari tampak awalnya si anak begitu exciting. Setelah diajarkan cara memainkannya, ponakan saya itu mulai tenggelam dalam suatu keasyikan yang tidak pernah terjadi sebelumnya. Ia menjadi anak yang “teduh”, anteng kata orang Jakarta.

Besoknya, gantian sang ayahnya yang membelikan mainan puzzle. Dengan gambar yang baru, rasanya puzzle menjadi suatu permainan yang tidak akan putus dieksporasi buatnya. Apalagi ketika permainan dilakukan bersama dengan orang-orang yang ia cintai, entah itu Ayah, Ibu atau kakaknya. Termasuk ketika neneknyapun ikut membelikan puzzle ukuran raksasa dengan potongan yang lumayan kecil. Jadilah mainan anak ini bersifat mainan seluruh anggota keluarga. Tenggelam dalam kebersamaan.

Untuk diketahui, mainan yang sebelumnya ia gemari adalah : tembak-tembakan. Apalagi kalau yang bunyi desingannya nyaring. Dengan gaya bak seorang serdadu sering ia beraksi menembak-nembaki seluruh anggota keluarga. Lucu, tapi ironis. Itu memang mainan, ya “mempermainkan anak” menurut saya. Karena barang semacam itu sebenarnya bukan konsumsi anak kecil, tapi hanya diekspoitasi oleh segelintir pebisnis untuk memanfaatkan psikologis anak kecil dan orang yang tidak paham.

Puzzle justru sebaliknya. Ini adalah sebuah mainan edukatif yang sarat dengan nilai. Ada pesan kebersamaan di dalamnya, ada nilai konstruktif yang disisipi. Sehingga anak bisa mulai bermain dalam belajar, dan sebaliknya belajar lewan sebuah mainan

 

Leave a Reply

 
*